Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Posted on 20.17

Tak Ada Pun Tak Apa-Apa

   Judul diatas adalah judul cerpen pertama kali yang saya buat pada bulan Ramadhan tahun lalu. Setelah naskah selesai saya coba-coba kirim ke koran lokal Jawa Pos. Eh ternyata keesokan harinya, saya masih ingat betul saat itu tanggal 01 September 2011 H+1 lebaran cerpen ini dimuat. Rasanya sueneng banget! Alhamdulillah. Nih saya share disini. Selamat membaca dan kalau bisa dikomentari juga ya :) Hatur nuhun..

Warm hug,
Fame 

Read More

Posted on 00.14

Cita-Cita Boleh Setinggi Langit


Tema    : Cita-cita
Judul   : Cita-Cita Boleh Setinggi Langit



Kamu mau jadi apa hayo?



Di sebuah surau....
“Hidup di dunia memang hanya untuk sementara, tapi alangkah lebih baik lagi kalau yang sementara alias tidak kekal itu kita manfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat. Kamu mau sekolah ke luar negeri? Semua bisa dicapai. Berusahalah untuk mewujudkannya! Ingatlah anak-anakku, kita hidup di dunia hanya sekali seumur hidup.......”
Penggalan petuah Bu Nyai tersebut terus mendengung di telingaku. Ya Rabb bisakah aku memanfaatkan sisa hidupku di dunia ini?
***
“Ayo bangun! Bantu bude urus adik-adikmu!
“Iya Bude, sebentar lagi”
Ku tutup buku diary yang bersampul batik ini dengan perasaan lega karena dapat mencurahkan isi hati seharian kemarin. Aku bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Bude dan tiga anaknya. Sudah menjadi rutinitasku selama 1 tahun belakangan, menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil Bude. Sebenarnya aku sama sekali tak ada hubungan darah dengan Bude. Ya, karena aku adalah anak mantan majikan beliau. Majikan beliau, Ibuku telah meninggal 1 tahun yang lalu. Sementara Ayahku kecelakaan setelah mengalami depresi atas kepergian Ibu. Tinggallah aku yang terus menangis karena takut menjadi anak yatim piatu. Sebenarnya aku tak sendiri. Aku masih memiliki Abang yang duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Tapi karena almarhum Ayah semasa hidup berpesan pada kami terutama abang untuk tetap menomorsatukan pendidikan apapun yang terjadi. Akhirnya  masuklah abang ke sebuah pesantren di pinggaran kota.
***
Bude Tum adalah sosok yang tegas tapi tetap baik. Dengan status jandanya tak heran dia sering uring-uringan apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Ketiga anak bude masih sekolah, jadi belum bisa membantu perekonomian Ibu mereka. Suatu ketika aku bertanya pada bude, “Anaknya bude banyak ya? Kecil-kecil pula. Apa nggak kerepotan tuh bude ngurusnya?” dengan terkikik bude menjawabnya “Nggaklah Rin. Banyak anak banyak pula rejekinya hahaha. Apalagi bude ditemeni belahan jiwa, Pakde Jo.” Seandainya aku merekam ucapannya saat itu lalu aku perdengarkan padanya saat ini mungkin beliau akan geram. Suami kebanggaannya pergi meninggalkan bude dan keluarga. Karena satu alasan: DEMI ISTRI BARU!. Tapi hal itu takkan pernah terjadi karena aku tak mungkin setega itu kepada orang sebaik bude.

Oh ya aku Rina, pelajar kelas satu di sebuah SMA Islam kota metropolitan. Semenjak menjadi yatim piatu aku tinggal di rumah Bude Tum. Sebagai balas jasa aku membantu bude mengurus rumah. Omong-omong walaupun aku yatim piatu aku tetap mempunyai cita-cita setinggi langit loh. Salah satunya sekolah di China. Kenapa China? Kenapa bukan Australia?  Aku pilih China karena China termasuk  negara maju di dunia. Selain itu China disebut juga dalam sebuah hadits, Utlubul Ilma walau bi shin. Artinya, tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Dan untuk mewujudkan cita-cita itu aku berusaha keras mulai sekarang. Cita-cita nggak dibatasi oleh status sosial maupun ekonomi. Cita-cita hak semua orang. Cita-cita adalah tujuan hidup. Orang akan berusaha dan bersaing untuk mewujudkannya. Cara pertama yang kulakukan adalah mencari info tentang beasiswa ke China. Info sudah ditangan. Kedua, lengkapi persyaratan. Syarat-syarat itu diantaranya tes TOEFL, tes kesehatan berikut tes kejiwaan, nilai raport yang rata-rata harus 8 dan yang terpenting menguasai bahasa mandarin min. Tingkat dasar. Kalau persyaratan sudah lengkap, tinggal berangkat!
***
Guang Zhou, 2011
Alhamdulillah dengan rahmat dan karuniaNYA aku bisa sampai di negeri China. Negeri Tirai Bambu. Dengan tekad dan keinginan kuat untuk meraih impian, cita-cita sudah di depan mata. Iza shadaqal azmu wadaha sabil, kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan. Ayo teman jangan mau kalah denganku!

Tak terasa tiga tahun lamanya aku berada di negeri orang. Inilah saat nya aku membagi ilmu yang kudapat pada orang-orang pribumi Indonesia. Sebenarnya Jiǎngshī atau dosen memintaku untuk menjadi warga negara China. Tapi, dengan alasan nasionalisme aku menolak permintaan itu dengan halus. Dia mengerti. Tapi dia tetap merayuku. “Tinggallah disini beberapa tahun lagi, bekerjalah disini. Ku jamin hidupmu akan makmur, muridku.” “Terima kasih tapi kurasa harus pulang. Aku rindu kampung halaman.” “Baiklah jika sudah bulat keputusanmu. Tapi tidak menutup kemungkinan kan jika kamu kembali lagi kesini? Tanganku akan selalu terbuka untukmu maksudku untuk orang seperti anda.” Tawaran dan iming-imingnya begitu menarik, gumamku. Selama tiga tahun disini aku tak hanya sekolah, sambil menyelam minum air. Sambil sekolah aku pun bekerja. Banyak pengalaman yang aku dapat disini. Mulai pekerjaan rendahan seperti buruh cuci hingga pekerjaan kantoran di perusahan Advertising. Manis pahit baru benar-benar aku rasakan disini, saat jauh dengan orang-orang yang ku sayang. Aku benar-benar I’timad ala nafsi, mandiri bertumpu pada diri sendiri. Karena tak seorangpun sanak saudaraku yang tinggal di China. Teman memang ada tapi tak mungkin kalau menggantungkan hidup pada mereka. Dari hasil kerja sambilan tersebut aku bisa membeli beberapa tanah dan sawah di Jawa.

Apa yang kudapat sampai detik ini bukan murni sebuah keberuntungan alias kebetulan. Semua ini karena usaha keras yang tak pantang menyerah. Aku ingat betul sewaktu tetangga berbisik, “mana bisa anak itu sekolah jauh ke China. Dia kan sudah kere!” Fuh, tertawalah hai tetangga! Kere, miskin, atau apalah bukan penghalang bagi seseorang untuk meraih asa. Yang terpenting, doa dan usaha! Usaha tanpa doa itu NOL BESAR.
Read More

Posted on 00.35

M.U.D (Special for JS)


MISS YOU DEWA!



Dewa..bukalah kedua matamu....
Pandanglah ruang di hatiku...
Dewa..berikan nafasmu untukku...
Agar kuhirup bersamamu..
“OH, Dewa kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?”
Hari ini begitu mengecewakan. Padahal aku pikir sikapnya yang ramah pagi ini karena dia sudah mulai menganggap kehadiranku. Nyatanya? Ada udang dibalik batu. Aku nggak sadar kalau hari ini ada ulangan biologi dan si Dewa pasti nggak belajar. Guess what? si Dewa minta contekan ke aku. Bimbang. Itulah yang aku rasakan hari ini. Separuh hati merasa senang karena terlihat bak dewi penolong “saat ujian” di matanya. Tapi separuhnya lagi kecewa, karena melihat sikapnya seperti itu. Seperti air susu di balas dengan air tuba.

***

“Pagi Nindy..” sapaan lembut itu mengagetkan aku yang sedang serius membuat rangkuman pelajaran. Aku menoleh dan mendapati sosok laki-laki yang sudah lama mengisi hatiku berada disampingku.
“Kok diam aja?” sapanya lagi.
“Dewa, ada apa?” jawabku sambil tersipu malu.
“Nyapa aja, masa sesama temen gak saling menyapa?” tanyanya masih dengan suaranya yang lembut.
“Oh. Pagi juga, Dew..” balasku menyapa.
“Kenapa kamu, mukanya kok merah gitu? Oya, kamu udah belajar Bio?” belum sempat aku menjawab, “Nanti bantu aku ya. Hafalannya susah-susah sih,”
Aku membalasnya dengan anggukan kecil lalu dia pun pergi meninggalkanku yang sedang duduk seorang diri. Untungnya Agnes, deskmate-ku segera datang menghampiriku dan menyapaku.
“Ndut, tumben dateng pagi?” Ndut adalah panggilan kesayanganku dikelas. Agnes mudah membaca mood seseorang. Mungkin dia tau kalau pagi ini aku lagi happy mood makanya dia langsung tanya,
“Hayo, lagi seneng ya? Eh kenapa-kenapa? Ceritain dong?” tanyanya dengan nada yang cepat, khas seorang Agnes. Aku pun menceritakan semuanya. Seperti biasa Agnes pasti langsung ogah-ogahan mendengar aku bercerita tentang pangeranku itu.
“Yaelah Ndut gitu aja seneng minta ampun,” ah dasar sahabatku satu ini gak pernah merasakan jatuh cinta kali ya? Kalau pernah, seharusnya dia tau apa yang dirasakan seseorang ketika pujaannya menyapa seperti itu.

***

Kebahagianku sirna beberapa jam kemudian. Awalnya pangeranku Rian begitu care terhadapku sampai ketika bel pulang sekolah berbunyi pertanda waktu ujian Bio sudah berakhir. Aku melihatnya langsung keluar kelas begitu usai membaca doa pulang. Sambil berkemas aku berbincang sebentar dengan deskmate­-ku setelahnya baru aku pulang. Di koridor sekolah aku berpapasan dengannya. Betapa kagetnya aku, dia tidak menyapaku bahkan senyumnya sama sekali tak nampak. Seperti bukan Dewa tadi pagi. Malah, dengan asyiknya dia menggoyang-goyangkan kepala mengikuti musik yang mengalun dari headseat-nya padahal jelas-jelas kami bertatap muka. Lebih parah lagi sapaanku,
“Dew..” tak digubris sama sekali. Ya Tuhan kenapa selalu seperti ini?

***

Aku mengenal Dewa sejak 4 tahun lalu. Kebetulan dulu kami juga satu SMP. Dan selama itu pula aku mencintainya. Entah dia sadar atau tidak. Yang jelas berita tentang aku mencintainya itu sudah sampai ke telinga teman-teman sekelasku, sekaligus teman sekelas Dewa. Aku Cuma berani memendam perasaan ini dalam hati karena aku tau aku bukanlah kriteria pacarnya bahkan mungkin saja temannya. Buktinya, kami jarang sekali terlibat pembicaraan seru. Mungkin sekali dua kali kami saling bicara, itupun seperti sesuatu yang nggak penting. Seperti tadi pagi. Aku minder berada disampingnya. Rasa minderku lah yang mengalahkan keinginanku untuk berada disampingnya, walau hanya untuk berteman dengannya.
Dewa, sosok cowok idaman di sekolahku. Dengan statusnya sebagai gitaris band didukung dengan wajahnya yang tampan, good looking, cewek mana yang nggak klepek-klepek coba? Kakak kelasku saja banyak yang naksir berat padanya. Sampai suatu hari dia berpacaran dengan salah seorang kakak kelas itu. Ya Allah, hatiku hancur mengetahui hal itu! Kesal! Aku mencoba berlapang dada, karena aku nggak mungkin bisa membencinya. Setelah ku pikir, ada benarnya juga yang dikatakan oleh teman-teman terdekatku bahwa Dewa mendekatiku saat ada maunya saja. Hal itu sudah terbukti sering kali. Seperti saat Ujian Akhir Nasional SMP tahun lalu, yang dengan mudahnya aku memberikan lembar jawabanku padanya hingga mengantarkannya menjadi 3 besar peraih nilai UAN tertinggi di sekolah, hanya saat ujian saja dia begitu care padaku. Tapi setelahnya bisa ditebak, Dewa menghiraukanku.
Itulah cinta, Itulah caraku mencintaimu, Dewa. Aku mencintaimu dulu hingga saat ini. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kau tetap dihatiku, Dewa.
Read More

Posted on 00.22

Real...ly


“Oca..” Mas Oky berlari sambil memanggil-manggil namaku.

Otomatis aku menoleh ke belakang.
“Eh mas Oky, ada apa mas?”
“Nanti ada latihan kamu datang ya?”
“Hm.. oke bos!”
Ada angin apa ya pagi ini? Sampai-sampai orang yang biasanya cuek dan sok cool seperti mas Oky menyapaku. Tanpa kusadari dari tadi ada orang disampingku yang sepertinya memperhatikan percakapanku dengan mas Oky.
“Ehem..ehem diam-diam pacaran sama kakak kelas nih ye?” ledek Ari yang teman sekelasku.
“Apaan sih Ri..” jawabku menyanggah.
***
Teet...Tetot..Tet...
Bel tanda pelajaran pagi telah usai. Aku bersiap-siap menuju ke Masjid untuk mengerjakan salat Dhuhur berjamaah.
“Ca, nanti ada OSN gak?” tanya Lina temen sebangkuku.
Aku menjawab dengan anggukan.
“Emang ada pengajarnya?” goda si Lina sambil menaikkan sebelah alis matanya.
“Ya ada lah. Jangan ngeremehin gitu ah,” ujarku sambil berlalu meninggalkannya.
“Ah.. paling-paling juga absen lagi pengajarnya. Terus kamu pulang atau nggak gabung ke OSN Astronomi” rupanya Lina jalan mensejajari langkahku.
“Ye.. sotoy banget sih mbak. Udah ah turun yuk!” ajakku.
***
Hari ini menjadi hari yang lumayan berat bagiku. Bukan hanya karena pelajaran hari ini yang susah-susah tapi juga bawaannya yang berkilo-kilo. Ah lebay. Sore nanti ada TC alias training center Karate. Maklumlah mendekati masa ujian kenaikan sabuk jadi wajib mengikutinya. Agar benar-benar menguasai materi ujian, begitu kata Senpaiku. Aku ikut ekskul karate semenjak masuk disekolah ini, kelas X tepatnya. Sampai sekarang aku masih heran, kenapa aku bisa memilih ekskul ini padahal faktanya aku payah sekali di bidang olahraga. Dasar nekat.
Buat orang awam karate dianggap olahraga yang berbahaya. “Nggak ah takut badan bonyok semua, dipukuli. Serem.” Aku mengulum senyuman mendengar pendapat mereka tentang ekskul satu itu. Dalam hati aku bilang jangan lihat dari segi negatifnya aja tapi lihat juga dong segi positifnya. Segi positifnya karate, menurutku adalah aku yang seorang perempuan jadi nggak was was diganggu orang jahat kalau lagi jalan sendirian. Itu berlaku kalau lawannya 1 loh ya? Kalau lawannya dua atau lebih ya nggak tau lagi deh. Satu lagi, sambil menyelam minum air. Maksudnya, selain berlatih serius apa salahnya kalau kita menjalin hubungan baik dengan sesama karateka. Selain menambah jumlah teman, jumlah gebetan juga bisa nambah loh, ups! Kaya aku gini nih, yang diam-diam naksir sama seseorang. Akibat dari perasaan yang terpendam ini, muncullah satu dua tiga jerawat di mukaku yang dulu mulus ini. Arrrgggh!
Jam di tangan menunjukkan pukul 2 siang. Bel masuk tanda dimulainya kegiatan belajar di siang hari berbunyi. Siswa-siswa SMA Fatahillah berhamburan menuju kelompok kelas jam siang masing-masing. Ada yang masuk ke kelompok Tartil yang kelasnya ada di lantai atas. Yang termasuk kedalam kelompok Bahasa Inggris segera memasuki ruangan kelas yang ada di lantai bawah. Sementara siswa yang mengikuti bimbingan OSN segera memasuki ruang Lab sesuai mata pelajarannya OSNnya. Tak terkecuali aku. Aku, Sita, Ari, dan Rahman berjalan menuju Lab Fisika. Beberapa menit menunggu, pembimbing OSN tak kunjung datang. Terdengar pengumuman dari sentral.
“Assalamu’alailum Warahmatullahi Wa Barakatuh. Pengumuman kepada siswa-siswi SMA Fatahillah yang mengikuti OSN Fisika, dikarenakan guru pembimbing berhalangan hadir maka OSN Fisika ditiadakan. Terima kasih.”
Ealah gak onok maneh OSN e,” ujar mas Rey, kakak kelas yang juga ikut OSN Fisika.
“Yaudah Ca, gabung ke OSN Astronomi yuk!” kali ini Sita yang mengambil inisiatif.
Aku pikir ada baiknya aku gabung ke Astronomi. Biar waktu dua jam menunggu TC nggak terbuang sia-sia.
“Okedeh Sit. Terus kalian berdua gimana?” tanyaku pada Ari dan Rahman.
“Ya pulaaaaang dong,” jawab mereka serempak.
“Dasar mulehan,” sahut Sita.
Aku dan Sita berjalan menyusuri koridor sekolah dan menuju ke kelas OSN Astronomi. Dan...
“Assalamu’alaikum,” sapaku dan Sita ketika masuk ke kelas.
“Maaf Bu, kita boleh gabung disini? OSN Fisika lagi libur soalnya bu?” tanya Sita pada Bu Olin yang menjadi pengajar OSN Astronomi.
Disaat yang bersamaan jantungku berdegup kencang. Olala, there is my boy that I love. Unbeliaveble, i meet him here. Dialah orang yang menyebabkan jerawat dimukaku bertambah banyak. Laki-laki itupun sama kagetnya denganku. Aku nggak nyangka selain jago di bidang karate dia ternyata juga great di bidang akademik. Dengan jantung yang berdebar-debar aku duduk berseberangan dengannya. Karena memang itu kursi yang tersisa. Sementara Sita duduk disampingku. Tiba-tiba pas lagi jalan kakiku di jegal oleh si dia. Oh Astagfirullah, aslinya mau marah eh ternyata bibir manyunku berubah menjadi sebuah senyuman waktu dia bilang,
“Ntar latihan karate loh ya?” saking terpesonanya lidahku sampai kelu. Lagi-lagi bukan kata yang keluar tapi malah sebuah senyuman. Grogi sih mau jawab apa. Awal awal pelajaran aku masih gugup satu kelas dengannya, tapi segera aku menata hati dan memfokuskan diri pada pelajaran. Tak bisa dipungkiri diam-diam aku memperhatikan penampilannya. Tas ransel biru laut di belakang punggungnya sangat kontras dengan tubuhnya yang putih bersih dan  kutilang. Aku menyukainya bukan karena fisiknya saja yang oke punya. Karisma. Ya dia punya karisma yang membuat dia disegani oleh teman-temannya bahkan guru. Senyumnya begitu menawan. Diam-diam dalam hati aku menyanyikan reff lagu Mahadewi. Sumpah I love you I need you I miss you..aku tak bisa musnahkan kamu dari otakku.
***
Hari demi hari berlalu.
Read More

Posted on 00.20

Anakku.. (Ayah)

Tema            : Anakku.. (Ayah)

Semarang, Februari 2008
                   Hari ini adalah hari bersejarah bagi keluargaku. Karena anakku, Sita akan melangsungkan akad nikah dengan mantan pacarnya, Wawan. Sungguh senang luar biasa karena di usia ku yang lebih dari setengah abad ini, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjadi wali nikah putri semata wayangku.
“Rachmawan Andhika bin Bambang Adiputra anda saya nikahkan dengan putri saya Alifa Sita binti M. Suryaali dengan mas kawin uang tunai senilai Satu juta rupiah dan Cincin emas seberat 60gram, tunai”
“Saya terima nikahnya Alifa Sita binti M. Suryaali dengan mas kawin yang telah disebutkan diatas, tunai”
“Sah.. sah..sah” kata para saksi dan hadirin.
Satu momen sakral pernikahan putriku baru saja usai. Dan kini putri kecilku sudah memiliki imam sendiri. Terbesit perasaan sedih karena aku akan kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidup, anakku, Sita.
Semenjak Ibu Sita meninggal, akulah yang menjadi ayah sekaligus Ibunya. Untunglah Ibu Sita meninggal ketika Sita sudah agak besar. Jadi tanpa campur tangan pembantu aku bisa membesarkannya seorang diri hingga kini, 23 tahun.
Aku sengaja tak mencari Ibu baru baginya, karena aku tau pasti dia akan sedih sekali karena orang terdekatnya akan digantikan. Tapi suatu ketika dia berkata padaku, “ Papa, aku kasihan melihat papa yang terus menerus mengurusku seorang diri. Aku ingin sekarang papa merasakan ada yang mengurus diri papa.  Aku akan sangat mendukung bila papa ingin mencari mama baru, pengganti mama.” Aku terharu mendengarnya namun aku segera tersadar ketika dia selesai mengucapkan kata pengganti mama. Dari pengucapannya terlihat sekali kalau dia merasa berat akan hal itu. Maka segera saja aku menjawab, “Ananda lihat sendiri papa sibuk mengurus kerjaan juga mengurus rumah. Maka dari itu, bantulah papa untuk memikul semua ini. Tak perlu yang susah, cukup menuruti semua perintah papa. Karena satu keinginan papa yang tak lain dan tak bukan adalah ingin melihat Ananda hidup bahagia tanpa kekurangan satu apapun.” Semenjak aku mengatakan hal itu. Ia sama sekali tak menyinggung soal mama baru lagi. Mungkin dia sudah cukup mengerti dengan penjelasanku saat itu.
Alhamdulillah Allah menganugerahkan anak yang penurut dan tak macam-macam. Dan betapa bahagianya menjadi orangtua dari anak yang berprestasi bagus di lingkungan pendidikannya. Sita, gadis kecilku telah berkali-kali membuatku bangga akan sikap, tingkah, dan prestasinya. Sekali lagi terima kasih Rabbi. Dan puncaknya ketika Ia dinobatkan sebagai seorang Dokter Muda Teladan oleh kampusnya. “Papa, aku lulus ujian skripsi dan tak lama lagi aku akan menjadi dokter seperti almarhumah Mama”
Aku rasa kebahagiaanku sudah cukup lengkap dengan hadirnya menantu yang juga berprofesi sebagai dokter, Wawan. Aku merasa lega dan ikhlas sekali.
“Semoga keluarga ananda menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah”

***
Aku temukan buku harian papa ketika usia pernikahanku menginjak 3 tahun. Papa terima kasih untuk pengorbananmu, tapi Sita minta maaf karena pesan terakhir papa tak bisa Sita laksanakan. Karena nasib Sita sama dengan papa, ditinggal oleh orang yang kita sayangi karena sebuah kecelakaan. Semoga almarhum papa dan mas Wawan mendapat tempat yang indah disisiNYA. Amin

Read More

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Tak Ada Pun Tak Apa-Apa

   Judul diatas adalah judul cerpen pertama kali yang saya buat pada bulan Ramadhan tahun lalu. Setelah naskah selesai saya coba-coba kirim ke koran lokal Jawa Pos. Eh ternyata keesokan harinya, saya masih ingat betul saat itu tanggal 01 September 2011 H+1 lebaran cerpen ini dimuat. Rasanya sueneng banget! Alhamdulillah. Nih saya share disini. Selamat membaca dan kalau bisa dikomentari juga ya :) Hatur nuhun..

Warm hug,
Fame 

Cita-Cita Boleh Setinggi Langit


Tema    : Cita-cita
Judul   : Cita-Cita Boleh Setinggi Langit



Kamu mau jadi apa hayo?



Di sebuah surau....
“Hidup di dunia memang hanya untuk sementara, tapi alangkah lebih baik lagi kalau yang sementara alias tidak kekal itu kita manfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat. Kamu mau sekolah ke luar negeri? Semua bisa dicapai. Berusahalah untuk mewujudkannya! Ingatlah anak-anakku, kita hidup di dunia hanya sekali seumur hidup.......”
Penggalan petuah Bu Nyai tersebut terus mendengung di telingaku. Ya Rabb bisakah aku memanfaatkan sisa hidupku di dunia ini?
***
“Ayo bangun! Bantu bude urus adik-adikmu!
“Iya Bude, sebentar lagi”
Ku tutup buku diary yang bersampul batik ini dengan perasaan lega karena dapat mencurahkan isi hati seharian kemarin. Aku bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Bude dan tiga anaknya. Sudah menjadi rutinitasku selama 1 tahun belakangan, menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil Bude. Sebenarnya aku sama sekali tak ada hubungan darah dengan Bude. Ya, karena aku adalah anak mantan majikan beliau. Majikan beliau, Ibuku telah meninggal 1 tahun yang lalu. Sementara Ayahku kecelakaan setelah mengalami depresi atas kepergian Ibu. Tinggallah aku yang terus menangis karena takut menjadi anak yatim piatu. Sebenarnya aku tak sendiri. Aku masih memiliki Abang yang duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Tapi karena almarhum Ayah semasa hidup berpesan pada kami terutama abang untuk tetap menomorsatukan pendidikan apapun yang terjadi. Akhirnya  masuklah abang ke sebuah pesantren di pinggaran kota.
***
Bude Tum adalah sosok yang tegas tapi tetap baik. Dengan status jandanya tak heran dia sering uring-uringan apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Ketiga anak bude masih sekolah, jadi belum bisa membantu perekonomian Ibu mereka. Suatu ketika aku bertanya pada bude, “Anaknya bude banyak ya? Kecil-kecil pula. Apa nggak kerepotan tuh bude ngurusnya?” dengan terkikik bude menjawabnya “Nggaklah Rin. Banyak anak banyak pula rejekinya hahaha. Apalagi bude ditemeni belahan jiwa, Pakde Jo.” Seandainya aku merekam ucapannya saat itu lalu aku perdengarkan padanya saat ini mungkin beliau akan geram. Suami kebanggaannya pergi meninggalkan bude dan keluarga. Karena satu alasan: DEMI ISTRI BARU!. Tapi hal itu takkan pernah terjadi karena aku tak mungkin setega itu kepada orang sebaik bude.

Oh ya aku Rina, pelajar kelas satu di sebuah SMA Islam kota metropolitan. Semenjak menjadi yatim piatu aku tinggal di rumah Bude Tum. Sebagai balas jasa aku membantu bude mengurus rumah. Omong-omong walaupun aku yatim piatu aku tetap mempunyai cita-cita setinggi langit loh. Salah satunya sekolah di China. Kenapa China? Kenapa bukan Australia?  Aku pilih China karena China termasuk  negara maju di dunia. Selain itu China disebut juga dalam sebuah hadits, Utlubul Ilma walau bi shin. Artinya, tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Dan untuk mewujudkan cita-cita itu aku berusaha keras mulai sekarang. Cita-cita nggak dibatasi oleh status sosial maupun ekonomi. Cita-cita hak semua orang. Cita-cita adalah tujuan hidup. Orang akan berusaha dan bersaing untuk mewujudkannya. Cara pertama yang kulakukan adalah mencari info tentang beasiswa ke China. Info sudah ditangan. Kedua, lengkapi persyaratan. Syarat-syarat itu diantaranya tes TOEFL, tes kesehatan berikut tes kejiwaan, nilai raport yang rata-rata harus 8 dan yang terpenting menguasai bahasa mandarin min. Tingkat dasar. Kalau persyaratan sudah lengkap, tinggal berangkat!
***
Guang Zhou, 2011
Alhamdulillah dengan rahmat dan karuniaNYA aku bisa sampai di negeri China. Negeri Tirai Bambu. Dengan tekad dan keinginan kuat untuk meraih impian, cita-cita sudah di depan mata. Iza shadaqal azmu wadaha sabil, kalau benar kemauan, maka terbukalah jalan. Ayo teman jangan mau kalah denganku!

Tak terasa tiga tahun lamanya aku berada di negeri orang. Inilah saat nya aku membagi ilmu yang kudapat pada orang-orang pribumi Indonesia. Sebenarnya Jiǎngshī atau dosen memintaku untuk menjadi warga negara China. Tapi, dengan alasan nasionalisme aku menolak permintaan itu dengan halus. Dia mengerti. Tapi dia tetap merayuku. “Tinggallah disini beberapa tahun lagi, bekerjalah disini. Ku jamin hidupmu akan makmur, muridku.” “Terima kasih tapi kurasa harus pulang. Aku rindu kampung halaman.” “Baiklah jika sudah bulat keputusanmu. Tapi tidak menutup kemungkinan kan jika kamu kembali lagi kesini? Tanganku akan selalu terbuka untukmu maksudku untuk orang seperti anda.” Tawaran dan iming-imingnya begitu menarik, gumamku. Selama tiga tahun disini aku tak hanya sekolah, sambil menyelam minum air. Sambil sekolah aku pun bekerja. Banyak pengalaman yang aku dapat disini. Mulai pekerjaan rendahan seperti buruh cuci hingga pekerjaan kantoran di perusahan Advertising. Manis pahit baru benar-benar aku rasakan disini, saat jauh dengan orang-orang yang ku sayang. Aku benar-benar I’timad ala nafsi, mandiri bertumpu pada diri sendiri. Karena tak seorangpun sanak saudaraku yang tinggal di China. Teman memang ada tapi tak mungkin kalau menggantungkan hidup pada mereka. Dari hasil kerja sambilan tersebut aku bisa membeli beberapa tanah dan sawah di Jawa.

Apa yang kudapat sampai detik ini bukan murni sebuah keberuntungan alias kebetulan. Semua ini karena usaha keras yang tak pantang menyerah. Aku ingat betul sewaktu tetangga berbisik, “mana bisa anak itu sekolah jauh ke China. Dia kan sudah kere!” Fuh, tertawalah hai tetangga! Kere, miskin, atau apalah bukan penghalang bagi seseorang untuk meraih asa. Yang terpenting, doa dan usaha! Usaha tanpa doa itu NOL BESAR.

M.U.D (Special for JS)


MISS YOU DEWA!



Dewa..bukalah kedua matamu....
Pandanglah ruang di hatiku...
Dewa..berikan nafasmu untukku...
Agar kuhirup bersamamu..
“OH, Dewa kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?”
Hari ini begitu mengecewakan. Padahal aku pikir sikapnya yang ramah pagi ini karena dia sudah mulai menganggap kehadiranku. Nyatanya? Ada udang dibalik batu. Aku nggak sadar kalau hari ini ada ulangan biologi dan si Dewa pasti nggak belajar. Guess what? si Dewa minta contekan ke aku. Bimbang. Itulah yang aku rasakan hari ini. Separuh hati merasa senang karena terlihat bak dewi penolong “saat ujian” di matanya. Tapi separuhnya lagi kecewa, karena melihat sikapnya seperti itu. Seperti air susu di balas dengan air tuba.

***

“Pagi Nindy..” sapaan lembut itu mengagetkan aku yang sedang serius membuat rangkuman pelajaran. Aku menoleh dan mendapati sosok laki-laki yang sudah lama mengisi hatiku berada disampingku.
“Kok diam aja?” sapanya lagi.
“Dewa, ada apa?” jawabku sambil tersipu malu.
“Nyapa aja, masa sesama temen gak saling menyapa?” tanyanya masih dengan suaranya yang lembut.
“Oh. Pagi juga, Dew..” balasku menyapa.
“Kenapa kamu, mukanya kok merah gitu? Oya, kamu udah belajar Bio?” belum sempat aku menjawab, “Nanti bantu aku ya. Hafalannya susah-susah sih,”
Aku membalasnya dengan anggukan kecil lalu dia pun pergi meninggalkanku yang sedang duduk seorang diri. Untungnya Agnes, deskmate-ku segera datang menghampiriku dan menyapaku.
“Ndut, tumben dateng pagi?” Ndut adalah panggilan kesayanganku dikelas. Agnes mudah membaca mood seseorang. Mungkin dia tau kalau pagi ini aku lagi happy mood makanya dia langsung tanya,
“Hayo, lagi seneng ya? Eh kenapa-kenapa? Ceritain dong?” tanyanya dengan nada yang cepat, khas seorang Agnes. Aku pun menceritakan semuanya. Seperti biasa Agnes pasti langsung ogah-ogahan mendengar aku bercerita tentang pangeranku itu.
“Yaelah Ndut gitu aja seneng minta ampun,” ah dasar sahabatku satu ini gak pernah merasakan jatuh cinta kali ya? Kalau pernah, seharusnya dia tau apa yang dirasakan seseorang ketika pujaannya menyapa seperti itu.

***

Kebahagianku sirna beberapa jam kemudian. Awalnya pangeranku Rian begitu care terhadapku sampai ketika bel pulang sekolah berbunyi pertanda waktu ujian Bio sudah berakhir. Aku melihatnya langsung keluar kelas begitu usai membaca doa pulang. Sambil berkemas aku berbincang sebentar dengan deskmate­-ku setelahnya baru aku pulang. Di koridor sekolah aku berpapasan dengannya. Betapa kagetnya aku, dia tidak menyapaku bahkan senyumnya sama sekali tak nampak. Seperti bukan Dewa tadi pagi. Malah, dengan asyiknya dia menggoyang-goyangkan kepala mengikuti musik yang mengalun dari headseat-nya padahal jelas-jelas kami bertatap muka. Lebih parah lagi sapaanku,
“Dew..” tak digubris sama sekali. Ya Tuhan kenapa selalu seperti ini?

***

Aku mengenal Dewa sejak 4 tahun lalu. Kebetulan dulu kami juga satu SMP. Dan selama itu pula aku mencintainya. Entah dia sadar atau tidak. Yang jelas berita tentang aku mencintainya itu sudah sampai ke telinga teman-teman sekelasku, sekaligus teman sekelas Dewa. Aku Cuma berani memendam perasaan ini dalam hati karena aku tau aku bukanlah kriteria pacarnya bahkan mungkin saja temannya. Buktinya, kami jarang sekali terlibat pembicaraan seru. Mungkin sekali dua kali kami saling bicara, itupun seperti sesuatu yang nggak penting. Seperti tadi pagi. Aku minder berada disampingnya. Rasa minderku lah yang mengalahkan keinginanku untuk berada disampingnya, walau hanya untuk berteman dengannya.
Dewa, sosok cowok idaman di sekolahku. Dengan statusnya sebagai gitaris band didukung dengan wajahnya yang tampan, good looking, cewek mana yang nggak klepek-klepek coba? Kakak kelasku saja banyak yang naksir berat padanya. Sampai suatu hari dia berpacaran dengan salah seorang kakak kelas itu. Ya Allah, hatiku hancur mengetahui hal itu! Kesal! Aku mencoba berlapang dada, karena aku nggak mungkin bisa membencinya. Setelah ku pikir, ada benarnya juga yang dikatakan oleh teman-teman terdekatku bahwa Dewa mendekatiku saat ada maunya saja. Hal itu sudah terbukti sering kali. Seperti saat Ujian Akhir Nasional SMP tahun lalu, yang dengan mudahnya aku memberikan lembar jawabanku padanya hingga mengantarkannya menjadi 3 besar peraih nilai UAN tertinggi di sekolah, hanya saat ujian saja dia begitu care padaku. Tapi setelahnya bisa ditebak, Dewa menghiraukanku.
Itulah cinta, Itulah caraku mencintaimu, Dewa. Aku mencintaimu dulu hingga saat ini. Sampai waktu yang tidak ditentukan, kau tetap dihatiku, Dewa.

Real...ly


“Oca..” Mas Oky berlari sambil memanggil-manggil namaku.

Otomatis aku menoleh ke belakang.
“Eh mas Oky, ada apa mas?”
“Nanti ada latihan kamu datang ya?”
“Hm.. oke bos!”
Ada angin apa ya pagi ini? Sampai-sampai orang yang biasanya cuek dan sok cool seperti mas Oky menyapaku. Tanpa kusadari dari tadi ada orang disampingku yang sepertinya memperhatikan percakapanku dengan mas Oky.
“Ehem..ehem diam-diam pacaran sama kakak kelas nih ye?” ledek Ari yang teman sekelasku.
“Apaan sih Ri..” jawabku menyanggah.
***
Teet...Tetot..Tet...
Bel tanda pelajaran pagi telah usai. Aku bersiap-siap menuju ke Masjid untuk mengerjakan salat Dhuhur berjamaah.
“Ca, nanti ada OSN gak?” tanya Lina temen sebangkuku.
Aku menjawab dengan anggukan.
“Emang ada pengajarnya?” goda si Lina sambil menaikkan sebelah alis matanya.
“Ya ada lah. Jangan ngeremehin gitu ah,” ujarku sambil berlalu meninggalkannya.
“Ah.. paling-paling juga absen lagi pengajarnya. Terus kamu pulang atau nggak gabung ke OSN Astronomi” rupanya Lina jalan mensejajari langkahku.
“Ye.. sotoy banget sih mbak. Udah ah turun yuk!” ajakku.
***
Hari ini menjadi hari yang lumayan berat bagiku. Bukan hanya karena pelajaran hari ini yang susah-susah tapi juga bawaannya yang berkilo-kilo. Ah lebay. Sore nanti ada TC alias training center Karate. Maklumlah mendekati masa ujian kenaikan sabuk jadi wajib mengikutinya. Agar benar-benar menguasai materi ujian, begitu kata Senpaiku. Aku ikut ekskul karate semenjak masuk disekolah ini, kelas X tepatnya. Sampai sekarang aku masih heran, kenapa aku bisa memilih ekskul ini padahal faktanya aku payah sekali di bidang olahraga. Dasar nekat.
Buat orang awam karate dianggap olahraga yang berbahaya. “Nggak ah takut badan bonyok semua, dipukuli. Serem.” Aku mengulum senyuman mendengar pendapat mereka tentang ekskul satu itu. Dalam hati aku bilang jangan lihat dari segi negatifnya aja tapi lihat juga dong segi positifnya. Segi positifnya karate, menurutku adalah aku yang seorang perempuan jadi nggak was was diganggu orang jahat kalau lagi jalan sendirian. Itu berlaku kalau lawannya 1 loh ya? Kalau lawannya dua atau lebih ya nggak tau lagi deh. Satu lagi, sambil menyelam minum air. Maksudnya, selain berlatih serius apa salahnya kalau kita menjalin hubungan baik dengan sesama karateka. Selain menambah jumlah teman, jumlah gebetan juga bisa nambah loh, ups! Kaya aku gini nih, yang diam-diam naksir sama seseorang. Akibat dari perasaan yang terpendam ini, muncullah satu dua tiga jerawat di mukaku yang dulu mulus ini. Arrrgggh!
Jam di tangan menunjukkan pukul 2 siang. Bel masuk tanda dimulainya kegiatan belajar di siang hari berbunyi. Siswa-siswa SMA Fatahillah berhamburan menuju kelompok kelas jam siang masing-masing. Ada yang masuk ke kelompok Tartil yang kelasnya ada di lantai atas. Yang termasuk kedalam kelompok Bahasa Inggris segera memasuki ruangan kelas yang ada di lantai bawah. Sementara siswa yang mengikuti bimbingan OSN segera memasuki ruang Lab sesuai mata pelajarannya OSNnya. Tak terkecuali aku. Aku, Sita, Ari, dan Rahman berjalan menuju Lab Fisika. Beberapa menit menunggu, pembimbing OSN tak kunjung datang. Terdengar pengumuman dari sentral.
“Assalamu’alailum Warahmatullahi Wa Barakatuh. Pengumuman kepada siswa-siswi SMA Fatahillah yang mengikuti OSN Fisika, dikarenakan guru pembimbing berhalangan hadir maka OSN Fisika ditiadakan. Terima kasih.”
Ealah gak onok maneh OSN e,” ujar mas Rey, kakak kelas yang juga ikut OSN Fisika.
“Yaudah Ca, gabung ke OSN Astronomi yuk!” kali ini Sita yang mengambil inisiatif.
Aku pikir ada baiknya aku gabung ke Astronomi. Biar waktu dua jam menunggu TC nggak terbuang sia-sia.
“Okedeh Sit. Terus kalian berdua gimana?” tanyaku pada Ari dan Rahman.
“Ya pulaaaaang dong,” jawab mereka serempak.
“Dasar mulehan,” sahut Sita.
Aku dan Sita berjalan menyusuri koridor sekolah dan menuju ke kelas OSN Astronomi. Dan...
“Assalamu’alaikum,” sapaku dan Sita ketika masuk ke kelas.
“Maaf Bu, kita boleh gabung disini? OSN Fisika lagi libur soalnya bu?” tanya Sita pada Bu Olin yang menjadi pengajar OSN Astronomi.
Disaat yang bersamaan jantungku berdegup kencang. Olala, there is my boy that I love. Unbeliaveble, i meet him here. Dialah orang yang menyebabkan jerawat dimukaku bertambah banyak. Laki-laki itupun sama kagetnya denganku. Aku nggak nyangka selain jago di bidang karate dia ternyata juga great di bidang akademik. Dengan jantung yang berdebar-debar aku duduk berseberangan dengannya. Karena memang itu kursi yang tersisa. Sementara Sita duduk disampingku. Tiba-tiba pas lagi jalan kakiku di jegal oleh si dia. Oh Astagfirullah, aslinya mau marah eh ternyata bibir manyunku berubah menjadi sebuah senyuman waktu dia bilang,
“Ntar latihan karate loh ya?” saking terpesonanya lidahku sampai kelu. Lagi-lagi bukan kata yang keluar tapi malah sebuah senyuman. Grogi sih mau jawab apa. Awal awal pelajaran aku masih gugup satu kelas dengannya, tapi segera aku menata hati dan memfokuskan diri pada pelajaran. Tak bisa dipungkiri diam-diam aku memperhatikan penampilannya. Tas ransel biru laut di belakang punggungnya sangat kontras dengan tubuhnya yang putih bersih dan  kutilang. Aku menyukainya bukan karena fisiknya saja yang oke punya. Karisma. Ya dia punya karisma yang membuat dia disegani oleh teman-temannya bahkan guru. Senyumnya begitu menawan. Diam-diam dalam hati aku menyanyikan reff lagu Mahadewi. Sumpah I love you I need you I miss you..aku tak bisa musnahkan kamu dari otakku.
***
Hari demi hari berlalu.

Anakku.. (Ayah)

Tema            : Anakku.. (Ayah)

Semarang, Februari 2008
                   Hari ini adalah hari bersejarah bagi keluargaku. Karena anakku, Sita akan melangsungkan akad nikah dengan mantan pacarnya, Wawan. Sungguh senang luar biasa karena di usia ku yang lebih dari setengah abad ini, Allah masih memberiku kesempatan untuk menjadi wali nikah putri semata wayangku.
“Rachmawan Andhika bin Bambang Adiputra anda saya nikahkan dengan putri saya Alifa Sita binti M. Suryaali dengan mas kawin uang tunai senilai Satu juta rupiah dan Cincin emas seberat 60gram, tunai”
“Saya terima nikahnya Alifa Sita binti M. Suryaali dengan mas kawin yang telah disebutkan diatas, tunai”
“Sah.. sah..sah” kata para saksi dan hadirin.
Satu momen sakral pernikahan putriku baru saja usai. Dan kini putri kecilku sudah memiliki imam sendiri. Terbesit perasaan sedih karena aku akan kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidup, anakku, Sita.
Semenjak Ibu Sita meninggal, akulah yang menjadi ayah sekaligus Ibunya. Untunglah Ibu Sita meninggal ketika Sita sudah agak besar. Jadi tanpa campur tangan pembantu aku bisa membesarkannya seorang diri hingga kini, 23 tahun.
Aku sengaja tak mencari Ibu baru baginya, karena aku tau pasti dia akan sedih sekali karena orang terdekatnya akan digantikan. Tapi suatu ketika dia berkata padaku, “ Papa, aku kasihan melihat papa yang terus menerus mengurusku seorang diri. Aku ingin sekarang papa merasakan ada yang mengurus diri papa.  Aku akan sangat mendukung bila papa ingin mencari mama baru, pengganti mama.” Aku terharu mendengarnya namun aku segera tersadar ketika dia selesai mengucapkan kata pengganti mama. Dari pengucapannya terlihat sekali kalau dia merasa berat akan hal itu. Maka segera saja aku menjawab, “Ananda lihat sendiri papa sibuk mengurus kerjaan juga mengurus rumah. Maka dari itu, bantulah papa untuk memikul semua ini. Tak perlu yang susah, cukup menuruti semua perintah papa. Karena satu keinginan papa yang tak lain dan tak bukan adalah ingin melihat Ananda hidup bahagia tanpa kekurangan satu apapun.” Semenjak aku mengatakan hal itu. Ia sama sekali tak menyinggung soal mama baru lagi. Mungkin dia sudah cukup mengerti dengan penjelasanku saat itu.
Alhamdulillah Allah menganugerahkan anak yang penurut dan tak macam-macam. Dan betapa bahagianya menjadi orangtua dari anak yang berprestasi bagus di lingkungan pendidikannya. Sita, gadis kecilku telah berkali-kali membuatku bangga akan sikap, tingkah, dan prestasinya. Sekali lagi terima kasih Rabbi. Dan puncaknya ketika Ia dinobatkan sebagai seorang Dokter Muda Teladan oleh kampusnya. “Papa, aku lulus ujian skripsi dan tak lama lagi aku akan menjadi dokter seperti almarhumah Mama”
Aku rasa kebahagiaanku sudah cukup lengkap dengan hadirnya menantu yang juga berprofesi sebagai dokter, Wawan. Aku merasa lega dan ikhlas sekali.
“Semoga keluarga ananda menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah”

***
Aku temukan buku harian papa ketika usia pernikahanku menginjak 3 tahun. Papa terima kasih untuk pengorbananmu, tapi Sita minta maaf karena pesan terakhir papa tak bisa Sita laksanakan. Karena nasib Sita sama dengan papa, ditinggal oleh orang yang kita sayangi karena sebuah kecelakaan. Semoga almarhum papa dan mas Wawan mendapat tempat yang indah disisiNYA. Amin